Diantara para pencetus dan penandatangan Manifes Kebudayaan ini di Jakarta adalah H.B. Jassin, Wiratmo Sukito, Goenawan Mohamad, dll. Sedangkan para manifestan di Kalimantan Selatan terdapat pula para sastrawan seperti Yustan Aziddin dan Rustam Effendi Karel. Maraknya komunitas sastra di tahun 1980-an dan 1990-an di Kalbar, khususnya di
Bisniscom, JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meresmikan Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Area Perpustakaan Gedung Panjang Kawasan Taman Ismail Marzuki Cikini, Jakarta Pusat, pada Kamis (7/6/2022).. Anies berharap perpustakaan tersebut tidak sekadar menjadi tempat disimpannya buku-buku, tetapi juga untuk menjadi wadah untuk membangun komunitas.
UINJakarta kembali menghadirkan komunitas baru bernama " Komunitas Sastra Pinggiran " yang dibuat oleh mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI). Komunitas ini menitik-beratkan pada sastra terutama puisi dan pendaftaran terbuka untuk seluruh mahasisw a di UIN Jakarta. Komunitas Sastra Pinggiran tidak menargetkan jumlah anggota, bagi mahasiswa yang ingin mendaftar dapat langsung menghubungi
KongresKomunitas Sastra Indonesia III dan Seminar Sastra Nasional. Memasuki usia ke-20 tahun, Komunitas Sastra Indonesia (KSI) menggelar Kongres Komunitas Sastra Indonesia III di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, pada 8-10 Januari 2016. Selain pemilihan pengurus KSI periode 2016-2019 sebagai agenda utama, kongres juga diisi seminar
Diantaranya, terhadap komunitas sastra yang berada di Jakarta, Bandung,Yogyakarta, Surabaya, Bali, Padang, Balikpapan, dan Makasar. Delapan kota ini, dipandang sebagai representasi dari kota-kota yang ada di wilayah Indonesia. Studi tentang komunitas sastra punya arti penting, karena mencoba menemukan bagaimana komunitas sastra berperan
Kehadirankomunitas sastra sebenarnya menjadi wadah bagi penulis merintis jalan kesustraan mereka. Seperti komunitas sastra Stomata di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan komunitas sastra Rusa Besi di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang menjadi wadah diskusi para mahasiswa sastra.
zwOm3N. Skip to content Tentang DKJPengurus HarianKomiteKontak OPEN CALL JAKARTA INTERNATIONAL LITERARY FESTIVAL 2022 JAKARTA INTERNATIONAL LITERARY FESTIVAL JILF 2022 KOMITE SASTRA – DEWAN KESENIAN JAKARTA Our City in Their World Citizenship, Urbanism, Globalism Kota Kami di Dunia Mereka Kewargaan, Urbanisme, Globalisme Pengantar Istilah kota dalam bahasa Indonesia selalu dibayang-bayangi kegandaan makna yang bisa merepotkan. Kota menjadi padanan bahasa Indonesia baik bagi kata city maupun town dalam bahasa Inggris, yang masing-masingnya memiliki cakupan makna berbeda. Kota dalam artian city adalah kota yang dengan ambisius hendak mengantar dirinya menjadi bagian dari dunia yang global, dan acapkali angan-angan ini hendak diwujudkan, bila perlu, dengan meninggalkan segala kelokalannya agar menjadi serupa dan seragam dengan kota-kota dunia lainnya. Sementara itu, kota dalam artian town adalah sebuah komunitas yang masih dipersatukan oleh kontiguitas kedekatan dan dihidupi oleh tradisi berkomunitas sehingga tidak pernah menjadi kota yang terkotak-kotak secara sosial, ekonomi, dan kultural seperti halnya city. Di dalam proses transformasi sebuah kota yang hendak mengglobal, ancaman paling serius bukanlah berasal dari ekspansi teritori kota ke kawasan-kawasan di pinggirannya, atau dari menjamurnya pembangunan infrastruktur megah dan baru, dan bukan pula dari arus mobilitas manusia dari tempat-tempat lain ke kota tersebut. Krisis terbesar yang bisa ditimbulkan oleh globalisasi kota-kota adalah hilangnya hak-hak kewargaan yang semula dimiliki secara melekat oleh mereka yang berdiam di tempat yang tengah dilanda perubahan itu. Jika hal itu dibiarkan terjadi, pergerakan kota-kota menjadi milik dunia’ dengan kultur urbanismenya yang homogen dan elitis akan menghasilkan kolonisasi kota-kota oleh segelintir orang dengan akses besar ke kekuasaan dan kapital. Kota menjadi wilayah pendudukan di mana warga kota justru menjadi kaum yang tertindas terusir, terabaikan, terlupakan. Kalaupun mereka diizinkan bertahan hidup di kota, itu karena mereka masih berfungsi sebagai komponen penunjang kehidupan kota yang bukan lagi milik mereka sebagai penjaja makanan di pinggir jalan, penyapu jalanan, pengepul sampah, penjaga parkir dan keamanan, ataupun pramusaji rumah-rumah makan. Kehadiran mereka tak dikehendaki, tetapi mereka dibutuhkan agar nadi kota tetap berdenyut, sejauh mereka tidak muncul secara mencolok dan mengganggu keindahan, kenyamanan, dan keteraturan kota. Mereka ada demi agar para urbanis dan kultur urbanismenya yang mahal tapi banal dapat terus berlangsung. Dunia baru yang asing itu kini mengeksploitasi mereka, sementara dulu tempat itu adalah sumber kehidupan mereka. Adakah sastra menangkap dan bergulat dengan krisis eksistensial kewargaan ini, di samping mencurahkan kegelisahannya atas berbagai perubahan fisik dan sosial yang terjadi pada kota ketika bertransformasi menjadi bagian dari dunia global? Bagaimana berbagai komunitas sastra dan gerakan sastra, khususnya yang secara langsung berhadapan dengan ancaman terhadap kewargaan ini, merespon proses-proses urbanisme dan globalisme yang menggerus kehidupan di kota-kota? Masihkah ada harapan, optimisme, serta gagasan-gagasan kritis dan inovatif yang tumbuh dari pergumulan nyata dengan transformasi kota dan mampu membuka jalan untuk merebut kembali kewargaan yang terampas? Adakah cara untuk mendamaikan hasrat untuk mempertahankan kota sebagai rumah kita di satu sisi dan kota sebagai milik dunia di sisi lain? Tujuan Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta menggunakan ajang Jakarta International Literary Festival JILF pada 2022 ini berkehendak untuk mencari dan mendengar suara-suara para penyintas transformasi kota di tengah belantara perubahan. Akan tetapi, tak kalah penting adalah menjadikan JILF 2022 sebagai sarana penggalangan solidaritas di antara para pegiat, pengabdi, dan pemerhati sastra di dalam latar dan konteks urban untuk bersama-sama menghadapi berbagai persoalan menyangkut krisis kewargaan kota ini melalui alternatif – alternatif yang segar sekaligus kritis agar celah-celah terobosan dapat mulai digali. Untuk itu, Panitia JILF 2022 mengundang komunitas-komunitas pegiat, pelaku, dan pemikir sastra yang memiliki perhatian serta keterlibatan khusus dengan isu-isu kewargaan dan perkotaan untuk menciptakan dan menyumbangkan pemikiran kreatif, rancangan konseptual, atau model pengembangan alternatif dalam bentuk proposal eksibisi, workshop, panel atau karya kreatif untuk mengirimkan proposal dengan cakupan area sebagai berikut Transformasi kota yang mengintegrasikan kewargaan, lingkungan, dan infrastruktur sebagai satu kesatuan pemikiran untuk pengembangan kehidupan kota ke depan; Pemeliharaan konservasi, penggalian “lumbung-lumbung budaya” yang laten atau potensial untuk membangun ketangguhan warga dalam menghadapi perubahan, sustainability kota yang ramah pada kehidupan; Isu-isu urban dan global seperti urbanisasi, gentrifikasi, neoliberalisasi kota, alih fungsi lahan, ketercerabutan warga displacement, teknologisasi kota, mobilitas lintasbatas, kemiskinan kota, ketidaksetaraan sosial dan ketimpangan ekonomi, materialisme; Imajinasi kota, warga, dan dunia dari wilayah periferi dan perspektif yang berjarak dari kawasan perkotaan sebagai sumbangan peluang dan kemungkinan baru bagi pengembangan kota-kota global yang berbasis kewargaan; Isu, pendekatan, proyek, eksplorasi, dan bentuk aktivitas lain yang berkaitan langsung dengan persoalan kewargaan, urbanisme, dan globalisme. Bentuk Kegiatan Bentuk kegiatan yang diusulkan dapat berupa penciptaan dan resitasi karya, pameran karya, workshop/bengkel kreatif, panel pemikiran kolaboratif, dan bentuk-bentuk kreatif lain yang relevan dan tepat sasaran. Penggagas diberi slot waktu khusus untuk memperkenalkan dan menyampaikan hasil karyanya sepanjang maksimum 3 tiga jam, dengan semangat partisipatoris atau interaktif. Format Usulan Proposal yang diajukan hendaknya berisi unsur-unsur sebagai berikut Isu atau problem konkrit yang melatarbelakangi dibuatnya usulan, Paparan bentuk kegiatan yang diajukan untuk menjawab isu atau problem dapat melibatkan sarana multimedia dan teknologi informasi dan digital, Personil yang terlibat nama komunitas, koordinator, jumlah personil, resume, dll., Linimasa kegiatan dari preproposal hingga pascafestival, jika ada, Anggaran yang dapat diajukan adalah maksimal – lima puluh juta rupiah, Uraian tentang cara atau pengukuran dampak dari kegiatan apabila ada tindak lanjut untuk implementasi dalam komunitas atau masyarakat, Lokasi tempat kegiatan berpusat atau dilaksanakan, dan Mengisi tautan pendaftaran Open Call JILF di dan mengunggah dokumen penunjang. Persyaratan Peserta Peserta yang dapat mengajukan proposal adalah yang memenuhi persyaratan sebagai berikut Warga Negara Indonesia yang berdomisili di dalam atau di luar wilayah negara Republik Indonesia, Menjadi bagian dari suatu komunitas sastra/seni/budaya sebagai pendiri/pengurus/anggota, Memiliki rekam jejak kepedulian dan keterlibatan dalam hal-ihwal yang bersangkutan dengan isu-isu sastra, seni, budaya dan/atau perkotaan dan/atau globalisasi, Pengusul dapat berkolaborasi baik dengan mitra domestik maupun dengan mitra asing atau internasional yang tidak berpusat di Indonesia, Ketersediaan dana pendamping dari mitra adalah sebuah nilai tambah bagi proposal, Bersedia menerima masukan untuk revisi proposal dari Panitia apabila proposal diterima, dan Bersedia tampil sebagai pengisi program dalam pelaksanaan JILF 2022 pada 22 – 26 Oktober 2022 di Jakarta. Periode Pengajuan Batas waktu pengajuan proposal lengkap adalah 15 Juli 2022 tengah malam. Proposal dikirimkan secara elektronik melalui Google Form pada tautan bersama dengan data lainnya. About the Author DKJ Dewan Kesenian Jakarta DKJ adalah lembaga otonom yang dibentuk oleh masyarakat seniman dan untuk pertama kali dikukuhkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada 7 Juni 1968. DKJ bertugas sebagai mitra kerja gubernur untuk merumuskan kebijakan serta merencanakan berbagai program guna mendukung kegiatan dan pengembangan kehidupan kesenian di wilayah Jakarta. Related Posts
- Decksa Almer Alfarezel dan Muhammad Kiandra Ramadhipa, dua rider binaan PT Astra Honda Motor AHM mencetak sukses seabagi juara satu dan juara ketiga di Thailand Talent Cup TTC 2023 seri ketiga. Dikutip dari rilis resmi PT AHM sebagaimana diterima balapan berlangsung di Chang International Circuit, Buriram, Thailand 3-4/6/2023. Keduanya bertarung mengandalkan Honda NSF250R. "Pengalaman dan kemampuan keduanya di TTC diharapkan dapat menjadi bekal balapan di seri-seri berikutnya. Kami akan terus mendukung mereka agar terus dapat mengukir prestasi yang membanggakan bagi bangsa Indonesia" sambut Andy Wijaya, General Manager Marketing Planning and Analysis AHM. Pembalap binaan AHM Decksa Almer Alfarezel tengah berhasil meraih double podium tertinggi di ajang Thailand Talent Cup TTC 2023 seri ketiga yang diselenggarakan di Chang International Circuit, Buriram, Thailand 3-4/6/2023 [PT AHM].Ia menambahkan bahwa prestasi yang dicapai menunjukkan kegigihan para pembalap binaan untuk terus belajar, berlatih dan memacu diri untuk mencetak prestasi terbaik. Baca Juga Banderol Rp 330 Jutaan, Honda New XL750 TRANSALP Perkasa di Trek Perkotaan Sampai Pegunungan "Saya puas dengan hasil akhir pekan ini. Berbekal latihan dan dukungan dari tim, saya dapat mempersembahkan double podium tertinggi. Semoga pada seri berikutnya saya mampu tampil lebih baik lagi dan kembali meraih podium juara," komentar Decksa Almer Alfarezel. Sedangkan Muhammad Kiandra Ramadhipa menyatakan berkonsentrasi penuh agar tetap bisa menjaga momentum dalam persaingan yang ketat. Decksa Almer Alfarezel, rider Astra Honda Racing Team [ TTC digelar dua race, masing-masing 15 lap, dan kedua rider alumni Astra Honda Racing School AHRS ini berhasil menyuguhkan penampilan impresif. Mampu memberikan persaingan ketat bagi para rider lainnya sejak race pertama. Penampilan dominan mereka pun dilanjutkan race kedua hingga mampu memberikan prestasi terbaik dalam putaran kali ini. Di Race 1, Decksa selalu berada dalam posisi tiga besar, bersaing rapat selama balapan berlangsung hingga finish di posisi pertama dengan catatan waktu 27 Sementara Ramadhipa yang memulai balapan di grid 1 finish di posisi keempat dengan catatan waktu 27 Baca Juga Ajakan Donor Darah Rutin ala Karyawan Astra Honda Motor Jateng dan Pengunjung Lalu Race 2, kedua rider selalu berada di grup depan dengan selisih waktu sangat dekat dengan rider lainnya. Decksa mampu menjaga waktu dengan cukup baik dan beberapa kali memimpin balapan. Ia finish pertama dan pencapaian ini menempatkan Decksa di posisi teratas klasemen sementara dengan total poin 128. Sedang Ramadhipa finish di posisi keempat, namun ada rider yang melewati track limit hingga ia naik posisi ketiga. Total pencapaiannya 85 poin dan menduduki peringkat tiga pada klasemen sementara. Selanjutnya mereka akan berlaga kembali di Chang International Circuit, Buriram, Thailand pada 29 Juli 2023.
› Menyambut pemberian gelar Kota Sastra UNESCO, Jakarta menyiapkan sejumlah program literasi. Kompas/Priyombodo Seorang remaja mencari buku bacaan di perpustakaan bersama di Taman Situ Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu 26/12/2021.JAKARTA, KOMPAS — Jakarta ditetapkan sebagai Kota Sastra oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO pada November 2021. Sejumlah program literasi pun disiapkan untuk menyambut gelar Harian Komite Jakarta Kota Buku Laura Prinsloo pada Senin 27/12/2021 mengatakan, Jakarta punya potensi besar sebagai kota literasi. Sejumlah industri penerbitan bermula dan berdomisili di Jakarta, begitu pula dengan komunitas-komunitas literasi. Pameran buku hingga festival literasi besar pun ada di Jakarta. Jakarta memiliki perpustakaan serta penerbit komersial dan nonkomersial. Jumlah orang yang mengunjungi perpustakaan digital selama pandemi Covid-19 di 2020 pun naik 415 persen.”Jakarta sebagai City of Literature Kota Sastra merupakan bagian dari Jejaring Kota Kreatif UNESCO. Kita diharapkan dapat menjalin kerja sama, tidak hanya dengan pihak dalam negeri, tapi juga dengan kota-kota lain dalam jejaring,” kata Laura pada diskusi daring berjudul ”Jakarta sebagai UNESCO City of Literature Bagaimana Para Pemangku Kepentingan Sastra Menyambutnya?”.KOMPAS/RIZA FATHONI Anak-anak membaca buku di Bale Buku di perkampungan Gang Dendrit, RT 004 RW 008, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, Senin 29/11/2021. Bale ini berawal dari pos ronda yang disulap menjadi perpustakaan untuk anak-anak. Sebagian buku disumbang dari Suku Dinas Sudin Perpustakaan Jakarta Timur, sebagian lagi dari donasi warga sekitar, komunitas, dan perorangan pencinta buku. Koleksi buku di tempat ini kini mencapai sekitar 500 City of Literature ialah Bucheon, Korea Selatan; Nanjing, China; dan Melbourne, Australia. Kota-kota itu adalah bagian dari Jejaring Kota Kreatif UNESCO UNESCO Creative Cities Network/UCCN. Pada November 2021, ada tambahan 49 kota dalam UCCN. Dengan demikian, ada 295 kota di 90 negara dalam Duta Besar/Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO Ismunandar mengatakan, ada empat kota di Indonesia yang masuk dalam UCCN. Keempatnya adalah Pekalongan sebagai Kota Kriya dan Seni Rakyat ditetapkan pada 2014, Bandung sebagai Kota Desain 2015, Ambon sebagai Kota Musik 2019, serta Jakarta sebagai Kota Sastra 2021.Baca juga Gerakan Literasi, Lompatan Besar Intelektual Muda BintaunaTiga unsurPenetapan Jakarta sebagai City of Literature mesti diikuti dengan sejumlah program terkait literasi. Sejumlah program sudah disusun dan akan segera dilaksanakan. Laura mengatakan, program mengangkat tiga unsur, yaitu sosial, ekonomi, dan seni akan diwujudkan dalam empat pilar. Pertama, pengembangan komunitas buku. Kedua, pertemuan pemangku kepentingan industri buku dan konten. Ketiga, penguatan budaya literasi untuk menghadapi bonus demografi. Terakhir, memperkuat ekosistem sastra dan konten.”Beberapa program turunannya seperti Sayembara Kampung Literasi, pembuatan aplikasi, dan adanya perpustakaan mikro di MRT, KRL, dan sebagainya. Kami juga mengusulkan ke Pemprov DKI Jakarta untuk membuat Taman Buku Martha Tiahahu. Taman itu rencananya terdiri dari beberapa toko buku, tempat diskusi, dan perpustakaan,” kata harap gelar ini membawa perubahan dan perkembangan terhadap budaya gemar membaca di DKI Jakarta serta pengembangan kelestarian khazanah A Setyawan Pustakawan melakukan penataan bahan pustaka shelving di Perpustakaan Umum Daerah Jakarta Selatan, Gandaria, Jakarta, Rabu 27/10/2021. Perpustakaan umum di Ibu Kota mulai melayani baca di tempat sejak Senin 25/10/2021. Pembukaan perpustakaan umum itu seiring dengan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat PPKM level 2 di Ibu Kota. Namun, jumlah pengunjung dibatasi 50 persen dari kapasitas juga mengajukan inisiatif lain, yakni Jakarta sebagai tuan rumah kongres International Publisher Association tingkat dunia. Kongres itu menurut rencana digelar pada November 2022. Laura menambahkan, menjadikan Jakarta sebagai Kota Sastra yang berkelanjutan butuh dukungan semua pemangku kepentingan, baik pemerintah provinsi, komunitas, maupun Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta Wahyu Haryadi mengatakan, penetapan Jakarta sebagai Kota Sastra merupakan jalan terang untuk kemajuan kesusastraan dan perpustakaan di DKI Jakarta. Literasi dan sastra pun mesti dijadikan simbol kota.”Saya harap gelar ini membawa perubahan dan perkembangan terhadap budaya gemar membaca di DKI Jakarta serta pengembangan kelestarian khazanah sastra,” ucap FATHONI Ketua RT 004 membuka kemasan buku donasi untuk Bale Buku di perkampungan Gang Dendrit, RT 004 RW 008, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, Senin 29/11/2021. Bale ini berawal dari pos ronda yang disulap menjadi perpustakaan untuk anak-anak. Sebagian buku disumbang dari Sudin Perpustakaan Jakarta Timur, sebagian lagi dari donasi warga sekitar, komunitas, dan perorangan pencinta buku. Koleksi buku di tempat ini kini mencapai sekitar 500 juga Pemulihan ”Learning Loss” Perlu Serius DilakukanSementara itu, Guru Besar Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Manneke Budiman mengingatkan agar gelar ini dimaknai secara tepat, apakah Jakarta sebagai Kota Sastra atau Kota Buku. Hal ini akan berpengaruh pada program yang disusun. Adapun keberhasilan program akan menentukan reputasi kota dan negara saat UNESCO melakukan evaluasi dia, Jakarta lebih tepat disebut Kota Sastra karena telah punya reputasi sebagai pusat sastra di Indonesia. Jakarta juga sudah memiliki modal penunjang, seperti penyelenggaraan Jakarta International Literary Festival JILF oleh DKJ hingga ASEAN Literary Festival ALF oleh Kemendikbudristek. Ada pula jejak peristiwa sastra di Jakarta, seperti Surat Kepercayaan Gelanggang dan Manifesto Kebudayaan.”Ada makam sastrawan di Jakarta, seperti Chairil Anwar dan Pramoedya Ananta Toer. Ada potensi wisata sastra bila diolah. Contohnya, di Startford-upon-Avon hanya ada satu rumah kelahiran sastrawan Shakespeare. Namun, kota itu disulap agar identik dengan sastrawan tersebut,” tutur Manneke.
Komunitas Sastra Indonesia disingkat KSI adalah organisasi kesenian nirlaba di Indonesia yang bergerak di bidang kesenian, utamanya sastra. Komunitas ini didirikan pada tahun 1996, dengan tujuan ikut menumbuhkembangkan gairah bersastra melalui berbagai kegiatan pendukung. Komunitas Sastra Indonesia didirikan oleh beberapa sastrawan Indonesia, antara lain Ahmadun Yosi Herfanda, Ayid Suyitno PS, Azwina Aziz Miraza almarhumah, Diah Hadaning, Hasan Bisri BFC, Iwan Gunadi, Medy Loekito, Shobir Poer, Slamet Rahardjo Rais, Wig SM, dan Wowok Hesti Prabowo.[1]
Seorang anak bersama orang tuadnya membaca buku di perpustakaan mini Taman Suropat, Jakarta, Minggu 21/11. Foto Iqbal Firdaus/kumparanOrganisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization/UNESCO menetapkan Jakarta sebagai City of Literature atau Kota Sastra Dunia yang diumumkan lewat laman resmi pada 8 November 2021. Kota Sastra Dunia lainnya adalah Gothenburg Swedia dan Vilnius Lithuania.UNESCO memilih Jakarta sebagai kota sastra dunia berdasarkan kategori DKI memiliki sejarah panjang dan potensi besar untuk peningkatan serta pengembangan sastra dan literasi. Sejarah literasi Jakarta terekam sejak masa kerajaan, kolonial, awal-awal kemerdekaan Indonesia, hingga era digital saat ini. Koran, penerbit buku, Balai Pustaka, dan Ikatan Penerbit Indonesia Ikapi pertama kali berdiri di menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang masuk sebagai salah satu dari 49 kota lain di dunia, yang tergabung dalam jaringan kota kreatif dunia UNESCO's Creative City Network tahun 2021. Adapun, 7 kategori kota kreatif versi UNESCO’s Creative Cities Networking UCCN adalah kerajinan dan kesenian rakyat, kesenian media, musik, film, desain, gastronomi, dan sastra. Hingga kini, total sudah ada 295 kota dari 90 negara ikut berinvestasi dalam budaya dan kreativitas untuk memajukan pembangunan perkotaan DKI Jakarta, Anies Baswedan menunjukkan buku kepada anak-anak. Foto Instagram/aniesbaswedanGubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berharap agar terpilihnya Jakarta sebagai Kota Sastra Dunia ini dapat berlanjut untuk dikembangkan di masa mendatang. Hal ini menunjukkan sejarah Jakarta yang kuat perlu terus dijaga dan dikembangkan pada masa depan."Kami merasa sangat bangga atas pemilihan UNESCO ini. Sebagai sebuah kota, Jakarta ini harus dibangun secara berkelanjutan. Pembangunan infrastruktur yang kami lakukan selama ini penting untuk menjadikan Jakarta sebagai kota yang maju. Tetapi, kami juga meningkatkan kualitas manusianya. Inilah yang akan mendorong proses pembangunan berkelanjutan,” ujar Provinsi DKI Jakarta berupaya secara optimal dalam pembangunan, baik infrastruktur maupun kualitas sumber daya manusia SDM. Hasilnya bisa terlihat dalam Indeks Pembangunan Manusia IPM Provinsi DKI Jakarta pada 2021 yang mencapai 81,11. IPM DKI berada di atas rerata nasional 72,29 dan menjadi yang tertinggi dari seluruh provinsi di Tanah Air. IPM menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan Jakarta membaca buku. Foto Instagram/aniesbaswedanSastrawan Berkelas DuniaKota Jakarta juga dikenal sebagai pencetak sastrawan berkualitas dan berkelas dunia. Sebut saja Chairil Anwar dan Pramoedya Ananta Toer yang sudah mendapatkan belasan penghargaan beranjak, geliat dunia sastra di Tanah Air masih terlihat sampai dengan saat ini, meskipun sudah sekitar 2 tahun terhambat karena pandemi COVID-19. Komunitas-komunitas sastra masih menjadi penopang terus bertahannya potensi dunia sastra di Indonesia.“Pertumbuhan dan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan literasi di seluruh Indonesia secara umum masih sehat,” kata budayawan Betawi Yahya Andi mengatakan, kegiatan sastra di Jakarta masih digerakkan oleh kelompok-kelompok masyarakat seperti Komunitas Sastra Indonesia KSI, Dapur Sastra Jakarta, Yayasan Puisi Indonesia YPI, dan orang anak membaca buku di perpustakaan mini Taman Suropat, Jakarta, Minggu 21/11. Foto Iqbal Firdaus/kumparanBeri Ruang BerekspresiSelama ini, Pemprov DKI berkomitmen memberikan ruang kepada semua pihak untuk melakukan kegiatan kesusastraan di pusat-pusat pelatihan seni dan budaya yang telah Kepala Dinas Kebudayaan DKI Iwan Hendry Wardhana, dinobatkannya Jakarta sebagai Kota Sastra Dunia oleh UNESCO tidak terlepas dari tersedianya ruang dan waktu bagi pekerja seni dan budaya di Jakarta untuk berekspresi."Gubernur DKI Bapak Anies Baswedan sudah lama memberikan ruang dan waktu kepada pekerja seni budaya Jakarta, khususnya terkait dengan kebebasan berekspresi dan berekosistem di DKI," ungkap Iwan, Kamis 25/11.Iwan menambahkan, pusat pelatihan seni dan budaya sudah tersebar di kota administrasi Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Jakarta Utara. Masing-masing kota administrasi memiliki 1 pusat pelatihan."Kami membuat aktivitas yang didukung dengan berbagai sumber daya yang ada di Dinas Kebudayaan. Kami cukup yakin bahwa Jakarta akan terus menjadi ekosistem bagi seni budaya," tegas proses revitalisasi Taman Ismail Marzuki TIM yang hampir selesai digadang-gadang bakal menjadi salah satu fasilitas utama yang mendukung ekosistem tersebut dan menjadi penarik perhatian dunia.
komunitas sastra di jakarta